Wednesday, October 27, 2010

Kebun Binatang Paling Berbahaya di Dunia


Entah apa konsepnya, tapi kebon binatang Lujan Zoo di Argentina ini benar-benar menakjubkan. Kalau kebon binatang lain menerapkan pengaman ekstra ketat terhadap para pengunjung, beda dengan Lujan Zoo. Kebon binatang yang terletak di kota Buenos Aries, Argentina.

Kebon binatang ini justru memberi kebebasan pada binatang-binatangnya juga pengunjung untuk saling menyentuh. Bahkan di kebon bintang ini para pengunjung dapat menunggang singa, harimau, mendekap beruang


Tidak heran kalau sikap pengelola ini memicu kontroversial dan protes dari masyarakat. Pengunjung juga boleh ikut memberi makan pada binatang-binatang predator itu.

Untuk mendapat sensasi pengalaman yang menegangkan itu, tentunya tidak gratis. Selain pengunjung dikenakan tiket masuk sekitar 5 poundsterling (sekitar Rp 85 ribu), untuk masuk ke lokasi singa-macan, atau binatang buas lainnya, ada tarifnya. Tiap orang harus membayar 50 dolar AS, juga menandatangani surat pernyataan, bahwa, pengelola tidak bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu terhadap pengunjung, misalnya, pengunjung digigit atau bahkan di makan binatang buas itu. Risiko ditanggung sendiri
Nah loh

Meski tiket masuk kandang binatang buas lumayan mahal sekitar Rp 605 ribu (kurs 1 dolar AS Rp 11.000), serta risiko nyawa melayang, namun banyak pengunjung tetap penasaran mencoba. Buktinya untuk masuk ke kandang dan menjajal menunggang singa, macan, beruang, dll, mereka harus ngantri. Bener-bener nekad

Mungkin di dunia, hanya kebon binatang inilah yang memberi kebebasan sepenuhnya kepada pengunjung juga binatang untuk saling berinteraksi. Juga, mungkin, inilah kebon binatang satu-satunya di dunia yang dinilai tidak mengindahkan keselamatan pengunjung juga binatang-binatang koleksinya. Pengunjung dibiarkan menjaga keselamatannya sendiri.

Di sini, nyawa seolah tidak penting. Dengan menandatangani surat pernyataan itu, pengunjung seolah 'menandatangani kematiannya' dan tidak bisa menuntut karena itu adalah kemauannya sendiri. Di sisi lain, pengelola juga menghadapi risiko kalau binatang koleksinya terluka karena banyak juga dari binatang itu masih berupa anakan (bayi).

Di interntet beredar foto-foto para pengunjung dengan wajah sumringah berdekatan bahkan memeluk singa atau macan, mendekap beruang. Atau anda juga bisa melihat foto-foto yang saya upload di sini, bagaimana dekatnya manusia dengan binatang2 buas itu.

Sudah pasti, konsep 'kebebasan' ini menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat. Apalagi, pengelola tidak memberi batasan usia bagi pengunjung yg ingin masuk kandang binatang. Anak-anak pun boleh, tapi lagi-lagi, risiko ditanggung sendiri.

Salah satu protes yang masuk adalah dari Yayasan Perlindungan Hewan-- The Born Free Foundations-- setempat yang menyatakan, pengelola bersalah melakukan hal itu, mereka juga menyerukan agar wisatawan tidak masuk ke kandang binatang buas. Will Travers, Direktur The Born Free Foundations mengatakan, "Saya telah melihat web kebon binatang Lujan, saya khawatir suatu ketika akan terjadi kecelakaan mengerikan di sana," katanya.

"Dengan menganjurkan pengunjung mendapatkan pengalaman 'luar biasa' dengan mendekati binatang-binatang buas itu, Kebon bintang itu telah menempatkan nyawa pengunjungnya dalam risiko luar biasa. Maut adalah taruhannya," tandasnya. "Siapa pun tahu kalau singa, harimau, adalah binatang-binatang buas dan sikapnya tidak bisa diprediksi. Sekilas terlihat baik, tapi ke depannya belum tentu,' tegasnya.



Tapi sejauh ini, 'koak-koak' para pemrotes tidak ditanggapi. Sejauh ini memang belum terdengar adanya insiden serius/fatal yang terjadi di sana,

Sumber : http://www.mamasipenk.co.cc/2010/10/kebun-binatang-paling-bahaya-di-dunia.html

Sejarah Letusan Merapi


Letusan Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta pada Selasa lalu ternyata tidak seberapa bila dibandingkan dengan letusan-letusan sebelumnya.

Letusan pada 1930 setidaknya telah membunuh 1.370 orang di 13 desa di lereng Merapi. Tapi ini bukan letusan terbesar. Letusan terbesar justru terjadi pada 1006. Saat itu seluruh Jawa tertutup abu vulkanik. Sayangnya tidak diketahui berapa korban akibat letusan itu.

Berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Gunung Merapi mengalami letusan pertama pada 1006. Rata-rata Merapi meletus dalam siklus pendek antara 2 – 5 tahun, dan siklus menengah setiap 5 – 7 tahun.

Siklus terpanjang pernah tercatat setelah mengalami istirahat selama lebih dari 30 tahun, yaitu pada masa awal terbentuknya gunung aktif. Memasuki abad ke-16, siklus terpanjang Merapi adalah 71 tahun, jeda letusan 1587-1658.

Pusat Vulkanologi mencatat, letusan besar Merapi terjadi pada 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan sebelumnya terjadi empat tahun lalu, tepatnya pada 8 Juni 2006 pukul 09.03.

Saat itu pemerintah mengungsikan 17 ribu warga di lereng Merapi. Namun, dua orang yang berlindung dalam bunker di Kawasan Wisata Kaliadem, Kaliurang, justru terpanggang awan panas. Bunker tak bisa melindungi korban dari 
wedhus gembel yang suhunya masih 500-600 derajat celcius.

Selasa petang, 26 Oktober, Merapi kembali meletus. Erupsi pertama gunung Merapi terjadi sejak pukul 17.02 WIB, diikuti awan panas selama 9 menit. Kemudian berulang hingga erupsi terakhir pukul 18.21 yang menyebabkan awan panas selama 33 menit.
Awan panas ini telah meluluhlantakkan beberapa kampung di lereng Merapi. Setidaknya 30 orang meninggal atas musibah ini, termasuk juru kunci Mbah Maridjan dan redaktur seniorVIVAnews.com, Yuniawan Nugroho.

Sumber : http://teknologi.vivanews.com/news/read/185464-sejarah-letusan-merapi

Makhluk - Makhluk Baru Dari Hutan Amazon


Laporan terbaru dari World Wildlife Fund (WWF) menunjukkan bahwa antara tahun 1999 dan 2009 sudah lebih dari 1.200 spesies baru atau yang dipercaya telah punah ditemukan kembali di hutan Amazon. Ini berarti 1 spesies tumbuhan atau binatang ditemukan setiap tiga hari, sehingga menjadikan Amazon salah satu tempat paling beragam di dunia.

“Laporan ini menunjukkan keragaman kehidupan yang luar biasa di Amazon,” ujar presiden WWF, Fransisco Ruiz, seperti dilansir dari laman resmi WWF pada 26 Oktober 2010.
Dia menjelaskan penemuan baru yang disebut-sebut penemuan terbesar selama satu dekade ini terdiri dari 637 tanaman, 257 jenis ikan, 216 jenis ampibi, 55 jenis reptil, 16 jenis burung dan 39 jenis mamalia.

Di antara yang ditemukan adalah:
- Anaconda yang dikategorikan dalam nama Latin, Eunectes beniensis, yang pernah ditemukan pada tahun 1936. Ditemukan di hutan Amazon Bolivia pada 2002, pertama kali disangka sebagai hasil gabungan anaconda hijau dan kuning, namun ternyata adalah jenis baru.

- Ranitomeya amazonica, kodok luar biasa dengan motif api berwarna merah di kepalanya dan warna biru di sekujur tubuhnya. Ditemukan di Amazon Peru.

- Kakaktua Pyrilia aurantiocephala, yang memiliki kepala botak dan warna yang beragam, ditemukan di Amazon Brazil. Spesies ini masuk ke dalam kategori hampir punah.

- Pesut pink Amazon atau bernama Latin Inia boliviensis yang pertama kali ditemukan pada tahun 1830. Dulu dikira subspesies dari Inia geoffrensis namun ternyata berbeda.
Inia bolivienses dari Amazon

- Ikan lele berwarna merah, buta dan berukuran kecil ditemukan di Rondonia, Brazil. Ditemukan pada penggalian sumur di desa Rio Pardo, ikan ini tidak sengaja terangkut ke dalam ember.

Walaupun kebanyakan spesies ini hidup tenang di hutan Amazon yang lebat, namun ancaman kepunahan masih mengintai mereka. Pada 50 tahun terakhir, berdasarkan data WWF, manusia telah menyebabkan kerusakan sedikitnya 17 persen hutan hujan Amazon. Angka ini lebih besar dari Venezuela, atau dua kali lebih besar dari Spanyol.

WWF mendesak setiap organisasi lingkungan dan pemerintah untuk menaruh perhatian pada hutan ini, karena 90-140 miliar karbon dihasilkan disini. Jika karbon ini dilepaskan ke udara akibat kerusakan hutan, maka akan semakin memperparah pemanasan global.

“Tindakan secepatnya diperlukan untuk menghindari skenario menakutkan ini,” ujar Ruiz seraya mengatakan bahwa kelangsungan Amazon bergantung pada kerja sama negara-negara Amerika Latin yang dilaluinya.

Sumber : http://teknologi.vivanews.com/news/read/185364-makhluk-makhluk-baru-dari-amazon