Showing posts with label Uneg Uneg. Show all posts
Showing posts with label Uneg Uneg. Show all posts

Tuesday, June 7, 2011

Ungkapan/ Perumpamaan yang Sering Kita Dengar

Dalam kehidupan sehari-hari kita biasa mendengar ungkapan atau perumpamaan yang maksudnya untuk menggambarkan suatu keadaan.

Di sini saya akan ulas beberapa ungkapan/ perumpamaan yang akrab di telinga kita, antara lain :

Seperti anjing dengan kucing

Ungkapan ini ditujukan kepada dua orang yang tidak pernah akur dalam segala hal. Bila bertemu selalu berselisih.

Yang jadi pertanyaan, kenapa anjing dan kucing yang dijadikan perumpamaan? Kenapa bukan kucing dan tikus? Atau gajah dan macan?

Jawabannya gampang. Karena anjing dan kucing adalah hewan yang biasa kita jumpai, dan kalau mereka bertemu selalu ribut. Tikus memang juga biasa kita lihat, tapi tikus tidak pernah berani melawan kucing. Sedangkan gajah dan macan hanya kita temui di kebun binatang atau TV. Itupun tidak pernah terlihat mereka berantem.

Laksana langit dan bumi

Perumpamaan ini biasanya secara salah kaprah dan membabibuta diungkapkan untuk menggambarkan dua sifat yang bertolak belakang. Satu baik, satunya lagi sadis,misalnya. Atau si A cantik, sedangkan si B jelek.

Yang benar adalah, bahwa perumpamaan itu dimaksudkan sebagai personifikasi dari dua pribadi yang tidak mungkin menyatu karena adanya perbedaan sifat mereka.

Padahal kalau di pantai kita lihat langit menyatu dengan bumi, lho!

Membabibuta

Membabibuta artinya bertindak ngawur, tidak pakai perhitungan. Sruduk sana sruduk sini, urusan belakangan.

Cuma kenapa dipakai babi? Padahal hewan lain, kalau buta, akan melakukan hal yang sama. Dan hewan yang cocok untuk “dikorbankan” dalam perumpamaan ini adalah babi hutan, yang pada dasarnya memang liar dan ganas. Apalagi kalau pas buta.

Mungkin dulunya membabihutanbuta, kali ya? Karena terlalu panjang, maka diringkas jadi membabibuta. Lagipula kalau membabihutan buta, nanti disalahtafsirkan dengan hutannya yang buta. Hutan mana punya mata?

Bagai pinang dibelah dua

Inti dari ungkapan ini adalah, bahwa kondisi fisik si A dan si B sama/ nyaris sama, persis seperti orang kembar, tapi bukan orang kembar. Nah, bingung ‘kan? Lebih bingung lagi, kenapa digunakan buah pinang, bukan apel atau semangka?

Mungkinkah yang membuat perumpamaan ini orang kuper, yang tahunya hanya buah pinang, sementara di luar sana banyak buah simetris lainnya yang lebih enak?

Bagai pungguk merindukan bulan

Entah siapa yang mengarang pepatah ini. Pungguk, konon adalah burung sejenis gagak, yang jelas-jelas hewan, kok bisa-bisanya dia merindukan bulan? Bukan cuma beda spesies, tapi juga beda status. Pungguk itu makhluk hidup, sedangkan bulan benda mati.

Kecuali kalau bulan sudah update status jadi makhluk hidup juga, bolehlah si pungguk itu merindukannya, walaupun si bulan harus pikir-pikir dulu untuk menerima pungguk.

Dari perumpamaan inilah yang mengilhami dibuatnya film kungfu Panda. Seperti kita ketahui, Po si panda adalah anak dari seekor itik yang menikah dengan babi. Nah, lo!! Ruwet, kan.

Muka badak

Kasihan si badak. Nggak salah apa-apa, nggak tahu urusannya apa, kok ndilalah dipakai untuk mewakili orang yang nggak tahu malu. Dasar, yang bikin perumpamaan itu memang bermuka badak. Ups, sori ya, dak.

Tak tentu rimbanya

Orang yang hilang dan tak ada kabar beritanya disebut hilang tak tentu rimbanya. Kenapa demikian? Karena yang mengarang ungkapan ini orang yang tinggal di hutan, atau dekat hutan, karena tahunya tentang rimba saja. Apa mungkin Tarzan atau George of the Jungle yang menciptakan?

Kalau orang kota yang ngarang pasti bunyinya “hilang tak tentu gedungnya” atau kalau nelayan yang ngarang akan berbunyi “hilang tak tentu lautnya”.

Seperti makan buah simalakama

Ini perumpamaan yang perlu melibatkan psikolog untuk menjelaskan buah simalakama itu seperti apa, baru bisa dibahas lebih lanjut. Betapa tidak, buah ini sedemikian jahatnya sehingga kalau dimakan berakibat bapak kita mati, kalau tidak dimakan, ibu kita yang mati. Ini pastilah buah yang mengalami kelainan psikis.

Bagai telur di ujung tanduk

Nah, ini jenis perumpamaan yang membutuhkan imajinasi tinggi, hingga sampai ketemu tanduk untuk dikombinasikan dengan telur.

Secara logika, telur utuh tidak mungkin bisa ngendon di ujung tanduk. Tapi nyatanya si pembuat perumpamaan punya pendapat lain. Telurnya ditaruh di lantai, lalu disundul-sundul pakai tanduk. Kenapa tanduk? Karena si pembuat perumpamaan ternyata mantan seorang matador yang trauma akibat telurnya pernah diseruduk banteng. Maksudnya telur ayam titipan dari istrinya untuk dijual ke pasar, lho. (mp2)

Monday, June 6, 2011

Yang Menyebalkan dari Acara Super X-tion di Trans TV

Acara yang tergolong baru di Trans TV dan cukup menarik perhatian adalah Super X-tion setiap Minggu malam. Meski jamnya tidak pasti karena lomba yang digelar outdoor ini sangat bergantung pada cuaca di lokasi lomba, tapi sayang untuk dilewatkan. Persiapannya pun tidak main-main. Berbagai alat berat dilibatkan sebagai penunjang utama aksi peserta.

Sayangnya, segala persiapan yang luar biasa itu kerap jadi kehilangan makna karena presenter dan komentator yang tampaknya kurang mampu menyajikan dengan baik.

Presenter yang cantik itu sering kedodoran saat membawakan acara. Mungkin karena ada tuntutan dari sang sutradara atau produser agar ia bicara dengan cepat, sehingga berakibat sering "selip lidah". Memang tak mudah bicara dengan intonasi tinggi dan cepat di ruang terbuka dan pasti ramai itu.

Yang menyebalkan justru komentatornya. Pada sebuah sesi lomba di mana peserta harus bergerak cepat menyeberangi tali yang dibentangkan di atas gedung, ada peserta yang jelas-jelas mengalami kesulitan dengan perangkat pengaman keselamatannya, tapi sang komentator tidak tanggap. Mereka justru terus saja bicara tentang lambannya sang peserta menyelesaikan lomba. Masalah itu baru diketahui setelah sang peserta, dengan susah payah, berhasil mencapai tujuan dan mengajukan komplain. Alhasil, dia pun diberi kesempatan untuk mengulang.

Di sesi lomba terakhir Minggu lalu (05/06) pun saya kesal lagi. Peserta harus melompat dari tempat ke tempat lain di ketinggian untuk mengambil bendera mengalami kesulitan, yang tampaknya disebabkan oleh pendeknya tali pengaman yang dikenakan peserta. Ini terlihat dari tiga/ empat pasangan peserta pertama yang hampir seluruhnya gagal karena lompatannya terhambat tali pengamannya sendiri. Di sini, satu peserta (seorang wanita yang berprofesi penjahit) beruntung berhasil meraih 1 bendera.

Peserta berikutnya ternyata cukup cerdik menyiasati kesulitan yang dialami pesaing-pesaing sebelumnya. Ia (seorang pejudo wanita) memanfaatkan tali pengamannya untuk menahan tubuhnya hingga berhasil menyeberang. Dengan cara ini dia berhasil meraih 6 bendera. Cara itulah yang kemudian ditiru oleh peserta lain, sehingga terlihat perbedaan mencolok antara skor peserta sebelumnya dengan skor peserta judo dan peserta lain setelahnya.

Memasuki babak final, hanya 4 dari 5 peserta yang berhasil mendapatkan bendera yang berhak masuk final. Sang wanita penjahit harus menyingkir karena hanya mendapat 1 bendera.

Di final ini, panitia kemudian menerapkan aturan dadakan, yaitu peserta tidak boleh bergantung pada tali pengaman! Dengan aturan ini, 3 peserta tak mendapatkan 1 bendera pun (termasuk sang pejudo), dan sang juara hanya mendapat 1 bendera.

Sulit membayangkan, betapa kecewanya sang penjahit diperlakukan secara tidak fair dalam Super X-tion ini. Dan panitia tampaknya tidak peduli sama sekali akan hal itu, padahal jelas terlihat bahwa mereka telah berlaku tidak adil.

Semoga saja, di lomba-lomba berikutnya tidak terjadi lagi seperti itu. (mp2)


Sunday, June 5, 2011

Komik "Semua Bisa Diatur"

Berikut ini adalah komik pendek terbaru saya yang dimuat di harian Jawa Pos. Ini adalah karya ke 5 saya yang pernah muncul di harian tersebut.

Awalnya komik ini saya beri judul "Disaster for Sale" yang intinya, bahwa berbagai bencana dan kekisruhan yang terjadi di negara tercinta Indonesia selama ini adalah skenario yang sengaja dibuat oleh suatu sindikat rahasia demi memenuhi keinginan orang-orang / kelompok tertentu. Semua itu karena satu hal: keserakahan.

Terima kasih kepada Jawa Pos yang telah menyediakan halaman untuk komik (sehingga dapur saya tetap ngebul), walaupun tidak selalu tersedia setiap hari.

Jawa Pos Senin, 16 Mei 2011

Jawa Pos Selasa, 24 Mei 2011

Jawa Pos Kamis, 26 Mei 2011

Jawa Pos Sabtu, 4 Juni 2011

Karya-karya saya terdahulu bisa Anda lihat di sini dan di sini. (mp2)

Monday, May 30, 2011

10 Acara TV Favorit

Ini 10 acara TV favorit saya. Urutan tampilan bukan menunjukkan ranking.

1. Shaun The Sheep

Tingkah polah biri-biri animasi berbahan plastisin yang disiarkan setiap hari jam 18.30 WIB di MNC TV ini sungguh jenaka dan sayang untuk dilewatkan.

2. Peppy The Explorer


Disiarkan setiap Sabtu jam 14.00 WIB di Trans TV. Dulu dua kali tayang, sekarang hanya satu kali.

3. Seputar Peristiwa


Acara yang (tampaknya) mengikuti kesuksesan On The Spot dan Spotline ini sangat menarik karena menyajikan hal-hal aneh, unik dan langka dari seluruh penjuru Indonesia. Terutama kalau presenternya Pica Wiriahardja. Disiarkan setiap hari (kecuali Minggu) di RCTI jam 12.30 WIB.


4. Pengejar Rahasia
 

Disiarkan setiap Kamis jam 22.00 WIB di ANTV.

5. On The Spot


Acara yang banyak memanfaatkan "jasa" YouTube" ini tayang setiap Senin - Jumat jam 19.00 WIB di Trans 7. Ciri khasnya adalah menampilkan 7 hal unik/ menarik dengan 3 jenis topik setiap tayangnya.

6. Spotlite


Hampir sama dengan On The Spot, Spotlite yang ditayangkan setiap Senin - Jumat jam 10.00 WIB di Trans 7 ini juga banyak menggunakan sumber dari YouTube.

7. FTV

Semacam sinetron yang dikemas beda dengan sinetron kejar tayang pada umumnya ini lumayan apik. Tapi saya lebih suka setting cerita yang berlokasi di Jogja. Sekalian bernostalgia. Disiarkan setiap hari di SCTV jam 10.00 dan 23.00 WIB.

8. Bioskop Trans TV


Saya suka acara ini hanya jika film yang disajikan bukan film yang ditayang ulang berkali-kali. Jam tayang 2 kali sehari (kayak minum obat), jam 21.00 dan 23.00 WIB di Trans TV.

9. Big Movies


Alasan yang sama dengan Bioskop Trans TV, saya nonton hanya jika belum pernah tayang. Yang menarik, Global TV kerap menyajikan film-film Eropa dan sesekali Thailand. Lumayan untuk alternatif tontonan di kala senggang. Tayang setiap hari jam 20.00 dan 22.00 WIB.

10. TV Champion


Kreatifitas orang Jepang dalam mengemas lomba di acara yang ditayangkan rutin di MNC TV jam 17.30 WIB ini patut diacungi jempol. Tidak bertele-tele dan didramatisir seperti kebanyakan acara lomba buatan lokal.

Foto dari berbagai sumber

Sunday, May 29, 2011

Benarkah Jalur Krian - Mojokerto Angker?

Krian dan Mojokerto adalah dua kota kabupaten yang akan Anda lalui jika berkendara dari Surabaya ke Jogja melalui jalur selatan. Jarak Surabaya - Krian + 20 kilometer, sedangkan Krian - Mojokerto + 35 kilometer. Pada jalur itu saya pernah mengalami suatu kejadian misterius yang hingga kini tak pernah saya lupakan.

Jalur Krian - Mojokerto (merah) yang konon angker itu
(sumber : Google Maps).

Awal Kisah

Ceritanya, sekitar tahun 1995 saya dan istri mendapat undangan pernikahan dari kerabat istri saya yang berdomisili di Jogja yang hendak menikahkan salah seorang putrinya. Mengingat hubungan kekerabatan tersebut cukup dekat, di samping karena saya juga sudah merindukan Jogja yang saya tinggalkan tahun 1992, maka saya dan istri memutuskan untuk berangkat. Tadinya saya ingin naik kereta api saja, tapi istri bersikeras untuk membawa mobil, karena khawatir di sana akan direpotkan masalah transportasi jika tidak membawa kendaraan sendiri. Walhasil, saya meminjam mobil adik saya, sebuah Citroen CX keluaran tahun 1990, tapi dibeli baru tahun 1994 seharga Rp. 16 juta.

Citroen CX seperti inilah yang saya pakai ke Jogja.

Mobil Tiba-tiba Mogok

Jam 4 sore, saya beserta istri dan anak saya (waktu itu masih berusia 5 tahun) berangkat ke Jogja. Ketika sampai di jalan raya Krian - Mojokerto, setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, tiba-tiba mesin mobil yang saya kendarai mati dengan sendirinya. Untungnya, mesin mati dalam keadaan mobil masih berjalan, sehingga saya punya kesempatan untuk mencari tempat aman yang agak longgar di pinggir jalan. Dipisahkan sebuah sungai kecil di pinggir jalan tersebut saya lihat beberapa rumah penduduk desa. Perlu diketahui, jalur Krian - Mojokerto termasuk jalur terpadat semenjak keluar dari Surabaya.

Jujur saja, saya tidak tahu banyak soal mesin. Terlebih mesin mobil Eropa. Parahnya lagi, baru kali itu saya mengendarainya! Hanya untuk membuka kap mesinnya saja saya butuh waktu 15 menit sampai ketemu tuas pembukanya. Dan begitu kap mesin terbuka, saya makin berkeringat dingin, karena konstruksinya yang berbeda dengan mobil-mobil Jepang kebanyakan.

Bersitegang

Sebelumnya, saya sudah cek indikator temperatur mesin dan tampak normal-normal saja. Tidak overheat. Bensinpun dalam kodisi penuh, karena baru diisi sekeluar dari Surabaya tadi. Beberapa kali saya coba starter, tapi mesinnya tak mau hidup juga. Dalam kondisi ini, saya sempat bersitegang dengan istri. Saya ingin batalkan saja perjalanan ke Jogja dan berniat mencari pinjaman telepon (waktu itu belum ada HP) ke rumah penduduk terdekat untuk meminta bantuan menderek mobil. Bahkan bila perlu saya akan terpaksa naik kendaraan umum ke kota terdekat (Krian) untuk mencari jasa penderekan mobil. Anehnya waktu itu, saya lihat jalanan agak sepi dari lalu-lalang kendaraan, sehingga istri saya punya kesempatan memaksa saya agar berusaha sebisa mungkin untuk menghidupkan mesin mobil itu. Saya sempat menggerutu waktu itu, “Sialan, giliran dibutuhkan, tak ada satu bus pun yang lewat!”

Mukjizat

Tiga puluh menit kemudian, setelah dilanda kepanikan, dongkol dan putus asa, terlebih karena hari makin gelap dan anak saya mulai rewel, saya coba untuk kesekian kalinya menstarter mesin dan ... hidup! Alhamdulillah. Tak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Allah SWT atas “mukjizat” itu. Tapi saya tak serta merta menjalankan mobil. Saya khawatir mogok lagi dan tidak tempat seaman di tempat semula. Saya biarkan menyala beberapa saat sambil sesekali memainkan gasnya.

Setelah yakin mobil tidak akan ngadat lagi, sayapun meneruskan perjalanan. Luar biasanya, dan untuk ini saya bersyukur, sampai di Jogja (hampir jam 12 malam) mobil berjalan lancar. Tak ada keluhan sama sekali. Baru kali itu juga saya rasakan kalau mengendarai Citroen ternyata nyaman sekali. Minim getaran dan goncangan! Bahan bakarnyapun tidak terlalu boros untuk ukuran mobil sebesar itu.

Bahkan, selama di Jogja 3 hari mobil itu saya pakai rekreasi ke Parangtritis dan Borobudur tak ada masalah. Hingga kembali ke Surabayapun, baik-baik saja.

Lalu Di Mana Letak Misterinya?

Nah, ini baru saya ketahui agak lama kemudian. Waktu itu, seperti biasa, saya ngobrol dengan teman kantor. Ngobrol ngalor ngidul, hingga akhirnya sampai pada pembahasan tempat-tempat angker. Kebetulan teman saya itu kelahiran Jombang berjarak + 1 jam perjalanan dari Mojokerto ke arah Jogja. Hampir satu bulan sekali dia ke Jombang untuk sekedar menjenguk ibunya di sana. Maka tak heran kalau dia kenal betul seluk beluk jalur Surabaya - Jombang yang notabene harus melalui jalur Krian - Mojokerto.

Menurut ceritanya, di jalur Krian - Mojokerto kerap terjadi kecelakaan misterius, misalnya mobil yang tiba-tiba selip dan bertabrakan dengan kendaraan lain yang berlawanan arah. Konon, pada hari-hari dan jam tertentu, biasanya sore, ada sebarisan gaib orang berseragam prajurit Majapahit menyeberang jalur itu. Konon kabarnya juga, kecelakaan terjadi tepat pada moment tersebut!

Seperti inilah kira-kira gambaran pasukan Majapahit (sumber : kaskus.us)

Saya terhenyak mendengar penuturan teman saya. Pikiran saya menerawang kembali pada kejadian waktu itu. Mesin mobil yang tiba-tiba mati dan hidup kembali tanpa saya melakukan apa-apa, jalanan yang sepi beberapa saat, benarkah karena fenomena itu? Atau semua itu hanya kebetulan semata? Ataukah ini sebuah misteri yang terkuak, tapi masih menyisakan misteri baru?

Wallahualam.

Yang jelas, saya tak pernah letih bersyukur kepada Allah SWT yang melindungi saya dan keluarga saya dari kesulitan dan memberi saya kesempatan untuk menceritakan semua ini kepada Anda. (jink)

Saturday, May 28, 2011

Gelinya Nonton Pengejar Rahasia di ANTV

Saya dan anak saya yang masih kelas 4 SD termasuk penyuka reality show bertajuk Pengejar Rahasia di ANTV. Acara yang dibawakan oleh aktor Hardy Fadhillah dan Rizky Mocil ini lumayan menarik untuk dijadikan tontonan bernuansa horor.

Mocil
(sumber foto: KapanLagi.com)
Hardy
(sumber foto: KapanLagi.com)
Hanya seringkali saya merasa geli sendiri saat menyaksikannya, karena para crew, termasuk pembawa acaranya, kerap ketakutan dalam menghadapi misteri yang ingin mereka ungkap. Entah itu bagian dari skenario atau memang demikian keadaannya, tapi semestinya mereka yang berkecimpung dalam aktifitas yang berkaitan dengan hal-hal gaib semacam ini tidak bersikap seperti itu.

Apa jadinya jika suatu saat mereka menghadapi hantu beneran dan para crew terbirit-birit ketakutan? Momen berharga berupa perekaman penampakan itu pasti akan terlewatkan. Sayang 'kan? Padahal, hal-hal seperti itulah yang dinanti penonton. (jink)

Mengapa RV Tidak Populer di Indonesia?

Di Amerika dan beberapa negara di Eropa, RV (Recreational Van) bukanlah barang baru. Kendaraan khusus yang interiornya didesain seperti rumah tinggal ini biasa digunakan sebagai salah satu alternatif transportasi rekreasi yang menyenangkan. Berbagai fasilitas standar seperti layaknya rumah ada di dalamnya, seperti kamar tidur, toilet, dapur dan ruang keluarga yang lengkap dengan perlengkapan audio, TV dan kulkas.


RV biasanya dibuat dari minibus atau minitruck yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi sebuah “rumah berjalan” atau memang sengaja dirancang untuk itu.


Meski terlihat menyenangkan, kenapa di Indonesia RV tidak populer? Beberapa kondisi di bawah ini mungkin jadi penyebabnya.

Faktor Geografis

Dibandingkan dengan Amerika atau Eropa yang mempunyai daratan yang sangat luas, Indonesia, khususnya pulau Jawa relatif sangat kecil. Dengan kondisi saat ini saja sudah terlihat betapa padatnya lalu-lintas antar kota, baik jalur utara maupun selatan. Apalagi jika ditambah dengan kehadiran RV, tak bisa dibayangkan seperti apa jadinya jalan raya yang tak pernah sepi itu. Mungkin jika dioperasikan di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi atau bahkan Papua kendaraan ini lebih cocok. Tinggal membenahi fasilitas dan infrastrukturnya saja.

Faktor Sosial - Budaya

Faktor sosial - budaya ini tampaknya yang paling berperan kenapa RV tidak populer di Indonesia. Ini bisa dilihat dari unsur-unsur di bawah ini :

Hari Libur
Di Amerika atau Eropa kebanyakan orang lebih suka memanfaatkan hari liburnya (yang biasanya cukup panjang) dengan mengunjungi tempat-tempat yang masih segar udaranya, seperti pegunungan atau pantai, yang benar-benar berbeda dengan suasana sehari-hari. Dan, menggunakan RV untuk mengunjungi tempat-tempat itu adalah salah satu pilihan yang banyak disukai. Bagaimana dengan Indonesia? Waktu liburan yang paling panjang di Indonesia barangkali hanyalah saat lebaran. Itupun tak sampai 2 minggu lamanya. Selebihnya hanyalah libur Sabtu - Minggu, hari besar atau “harpitnas”. Dengan jatah libur yang minim tersebut orang akan berpikir dua kali untuk menggunakan RV. Bagi orang Jakarta, tempat ber-weekend paling favorit sebenarnya pegunungan juga, yaitu Puncak, dan pantai (Ancol), tetapi karena jarak tempuhnya pendek, akan sia-sia jika menggunakan RV. Terlebih, andai ke Puncak pakai RV, akan seperti apa macetnya?

Kesadaran Berlalu-lintas
Di Indonesia, berkendara ke luar kota dengan kendaraan biasa saja sudah cukup membuat stress karena harus berhadapan dengan bus-bus umum yang sopirnya kerap ugal-ugalan dan tak menghargai pemakai jalan lain. Dengan adanya RV, para sopir bus tersebut mungkin akan menjadi semakin “tertantang” untuk beraksi seolah melihat pesaing, karena ukuran RV biasanya hampir sama besar dengan bus umum. Di sebuah koran pernah diberitakan, bahwa ngebut di jalan raya dan keberhasilan mendahului kendaraan lain sejenis sangat membanggakan bagi para sopir bus umum itu untuk diceritakan kepada rekan-rekan sesama sopir bus. Walau kerap celaka, toh budaya sok jago di jalanan itu tak juga reda.

Fasilitas dan Infrastruktur
Jalan raya antar kota di Indonesia pada umumnya tidak selebar jalan raya antar kota di Amerika. Dengan minimnya kesadaran berlalu-lintas seperti yang saya sebutkan di atas serta kondisi jalan raya ini, maka mengendarai RV di Indonesia menjadi tidak menyenangkan lagi. Belum lagi fasilitas untuk pembuangan limbah toilet dalam RV yang memerlukan perhatian tersendiri. Sangat menggelikan dan menjijikkan kiranya jika pengendara RV membiarkan limbah tersebut berceceran di jalan raya atau membuangnya di pinggir jalan. Hiii...

Gengsi
Bagi sebagian orang, khususnya yang berduit, menginap di hotel mewah adalah suatu keharusan. Di luar negeri pula. Meski sekedar ber-weekend sekalipun, pilihan ini yang diambil. Bagi yang kurang beruntung, cukuplah ke kebun binatang atau ... ke mall!

Faktor Ekonomi?

Meskipun harga RV relatif mahal, tapi bukannya tidak mungkin bagi orang Indonesia untuk memilikinya. Lihat saja di jalanan, banyak bersliweran mobil-mobil mewah yang harganya tidak lebih murah dari RV. Yang jadi masalah justru tempat penyimpanan dan perawatannya. Butuh garasi yang cukup besar untuk menyimpannya, belum lagi frekuensi penggunaan RV yang relatif jarang, sehingga orang enggan memilikinya.

Memilikinya? Kenapa tidak menyewa saja kalau begitu?

Memang sudah ada beberapa orang yang tertarik untuk menyewakan kendaraan khusus berinterior dan berfasilitas seperti layaknya hotel mewah, tapi tampaknya belum menyentuh konsep RV seutuhnya. Kendaraan yang digunakan pun adalah bus besar, sehingga kurang cocok untuk kondisi di Indonesia.

Mungkin di antara Anda yang ingin memulai bisnis persewaan/ rental RV, kenapa tidak? Meski banyak faktor yang kurang mendukung keberadaan RV, tapi itu bisa disiasati dengan menggunakan RV berukuran sedikit lebih kecil dari RV di Amerika (kira-kira seukuran Isuzu Elf) dan tarif sewanya tidak terlalu jauh dari tarif sewa Innova misalnya. Jika ternyata bisa diterima masyarakat, saya yakin fasilitas pendukung dan infrastruktur akan menyusul dibenahi.


Tidak menutup kemungkinan, suatu saat nanti orang berebut menggunakan RV untuk mudik ke kampung halaman! (jink)

Foto-foto dari berbagai sumber.

Saturday, April 23, 2011

Menjadi “Kaya” Tanpa Harus Berlimpah Harta

Malam itu si Bejo gelisah di tempat tidur. Matanya menatap kosong langit-langit rumahnya yang disana sini sudah keropos dan bocor. Istri dan anaknya yang bungsu sudah terlelap dalam pengapnya udara di kamarnya. Kipas angin tuanya tidak lagi mampu menyejukkan udara kamarnya meski hujan sejak siang deras mengguyur. Pikirannya berkecamuk tak menentu. Ada kegundahan yang mendalam di benaknya. Kegundahan atas nasib yang tak kunjung berubah meski ia telah bekerja sepenuh hati membaktikan dirinya di perusahaan selama hampir dua puluh tahun.
Masih terngiang ”sambatan” istrinya sore tadi. Gaji bulan ini sudah menipis, sementara hari gajian berikutnya masih dua minggu lagi. Padahal ada kebutuhan yang memerlukan biaya ekstra, sementara gaji yang tersisa hanya cukup untuk makan sehari-hari. Atap rumah bocor, tv rusak, ibu mertuanya sakit dan minta bantuan biaya berobat, tarif air dan listrik naik, sekolah anaknya menagih cicilan uang gedung dan anak bungsunya yang terus merengek   minta   dibeli-kan sepeda  seperti yang dipunyai teman sebayanya yang tinggal di sebelah rumah membuat matanya jadi sulit terpejam.
Tiba-tiba muncul amarah dalam hatinya. Ia marah kenapa Tuhan tidak juga memberinya rezeki lebih, padahal dia sudah bekerja keras dan disiplin, sholat dan tak pernah melewatkan waktu untuk berdoa selepas sholat memohon kepada Tuhan agar dilancarkan rezekinya. Sementara itu, tetangga dan teman kantornya terlihat begitu mudah meraih apapun yang diinginkan. Mobil bagus, rumah lengkap dengan perabotnya. Sedangkan dirinya, jangankan mobil, sepeda motor saja baru bisa dibelinya setelah mendapat pinjaman dari koperasi kantornya. Sepetak rumah yang ditempatinyapun hanyalah warisan dari orang tua istrinya. Bukan dari jerih payahnya sendiri yang pernah diangan-angankannya sewaktu baru menikahi istrinya dulu.
”Apa salahku, Tuhan? Aku selalu berbuat baik pada sesama, sholat kujalani sesuai dengan titah-Mu, tapi kenapa Engkau biarkan aku terpuruk dalam kesulitan ekonomi seperti ini?” gumamnya lirih. Sesaat ia menoleh ke anaknya yang tidur berhimpitan satu ranjang dengan dia dan istrinya.
Diusapnya kepala si anak yang masih berusia tiga tahun itu dengan lembut sembari berujar ”Maafkan bapakmu yang bodoh ini, nak. Bapak sangat ingin membahagiakanmu, kakak-kakakmu dan ibumu, tapi apa daya bapak? Bapak tidak tahu harus berbuat apa agar kita bisa punya uang banyak..Maafkan bapak ya, nak.” Dipeluknya tubuh mungil anaknya. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca, dadanya terasa sesak. Himpitan masalah lama ditambah dengan masalah baru yang muncul belakangan dirasakannya semakin memberatkan pikirannya. Entah berapa lama Bejo tercenung dan sesekali mengusap air mata yang membasahi dahinya. Pelahan dipejamkan matanya. Kini ia mengutuk dirinya sendiri yang dianggapnya sebagai laki-laki yang gagal. Yang kalah dalam menghadapi pertarungan hidup yang semakin tak menentu. Yang hanya bisa bermimpi tapi tak punya peluang untuk mewujudkannya. Bisa jadi, banyak Bejo Bejo lain yang malam itu hatinya dipenuhi dengan amarah, kekecewaan dan semua perasaan lain yang timbul sebagai akibat dari munculnya ”perasaan kegagalan merubah  nasib”. Para  Bejo yang   berangan-angan   mempunyai  harta  melimpah  dan    dengan hartanya itu dia penuhi semua keinginannya, tapi pada kenyataannya cuma ada seribu rupiah di dompet kumalnya. Dianggapnya Tuhan tidak lagi boloan dengannya, karena doa yang selalu dipanjatkan agar nasibnya berubah tidak pernah terkabul. Tapi kalau saja Bejo waktu itu berada di sebuah pasar bersama istrinya dan tiba-tiba sebuah bom meledak tak jauh dari dirinya apakah Bejo masih akan meratapi kondisi keuangannya yang buruk? Atau kalau saja malam itu Bejo berada di sebuah desa di lereng gunung Argopuro dan tiba-tiba air bah bercampur lumpur dan batu-batu sebesar kerbau meluluh lantakkan rumah-rumah dan apapun yang dilaluinya, apakah Bejo masih akan meratapi ketidak-mampuannya membelikan anaknya sepeda?
Atau kalau saja suatu malam Bejo pulang larut sehabis lembur dan tiba-tiba di jalan yang sepi sekelompok orang menghadang dengan belati terhunus meminta dengan paksa sepeda motornya, apakah Bejo masih akan mengutuk kemiskinannya?

Mudah-mudahan saja tidak. Karena Bejo seharusnya menyadari kalau yang namanya rezeki dari Tuhan bukan melulu berwujud harta benda. Kesehatan dan keselamatan diri dan keluarganya juga merupakan rezeki yang nikmat dan tak ternilai harganya yang diberikan Tuhan kepada umatNya. Seharusnya Bejo bersyukur karena malam itu ia bisa berbaring dengan nyaman di ranjangnya bersama istri dan anak-anak yang dicintainya. Seharusnya Bejo bersyukur karena ia dikaruniai anak-anak yang pandai dan sehat, istri yang setia mendampinginya meski kondisi ekonomi keluarganya ”megap-megap”. Seharusnya Bejo bersyukur karena bukan dia yang menjadi korban ledakan bom di pasar yang membuat dua orang bocah yatim piatu pada Minggu pagi di awal tahun 2006 itu. Seharusnya Bejo bersyukur rumahnya tetap tegak berdiri karena tidak ada banjir bandang. Seharusnya Bejo bersyukur karena bukan dirinya yang bersimbah darah tertelungkup di jalanan sepi akibat ulah penjahat yang merampas sepeda motornya. Seharusnya Bejo bersyukur karena sebenarnya dia ”kaya” dalam ketidakkayaan materi.
Mudah-mudahan Bejo menyadari bahwa Tuhan memberikan rezeki dalam cara-cara yang tidak terduga. (da)