Thursday, June 9, 2011

Transisi ke IPv6 Mengancam Dunia Maya


8 Juni 2011 merupakan hari bersejarah bagi dunia Internet. Di hari itu, sejumlah perusahaan layanan internet utama dunia mulai mengganti standar pengalamatan internet lama (IPv4) ke generasi terbaru yakni IPv6.

Dikutip dari World IPv6 Day, 9 Juni 2011, perusahaan seperti Google, Facebook, Yahoo, YouTube, Meebo, Plurk, Bing, merupakan beberapa raksasa dunia maya yang siap menyediakan layanan mereka lewat IPv6. Secara total, ada 434 lembaga yang melakukan uji coba selama 24 jam.

Menurut Darric Hor, General Manager PT Symantec Indonesia pada keterangan tertulisnya, salah satu tujuan uji coba peralihan itu adalah untuk memotivasi organisasi lain di seluruh industri.

Seperti diketahui, penyedia layanan internet (ISP), pembuat hardware, pembuat sistem operasi dan perusahan web perlu mempersiapkan layanan IPv6 mereka. Ini untuk memastikan transisi berjalan sukses setelah alamat IPv4 yang telah digunakan sejak 1983 habis digunakan, sekitar tahun 2012.

Sebagai gambaran, menggunakan metode pengalamatan IP lama (IPv4), hanya bisa ada 4.294.967.296 alamat IP saja yang bisa dipakai di seluruh dunia. Sementara IPv6 (yang diterapkan mulai 1999) menawarkan IP untuk 340.282.366.920.938.463.463.374.607.431.768.211.456 alamat.

“Yang jadi masalah, transisi dari IPv4 ke IPv6 menjadi peluang besar bagi para pembuat malware dan penjahat dunia maya lain dalam melakukan serangan,” kata Darric. “Selain itu, adopsi IPv6 juga berpotensi menimbulkan masalah lain,” ucapnya.

Software dan hardware firewall, kata Darric, dapat ditembus jika mereka tidak mampu mendeteksi dan menginspeksi trafik yang datang dari IPv6. “Saat beralih ke protokol IPv6, kita menghadapi kondisi di mana kita perlu mempelajari ancaman baru, yang saat ini belum terlihat nyata,” ucapnya.

Untuk itu, Darric menyarankan pada setiap pelaku dan pengguna di industri Internet untuk selalu melakukan update terhadap aplikasi pengamanan mereka termasuk firewall untuk memastikan ancaman yang akan hadir dapat diminmalisir.

1 comment: